SEJARAH NAMAN “DUKUH NGEIMPEIT” DI DESA SUKOSONO, kedung, jepara
SEJARAH NAMAN “DUKUH NGEIMPEIT” DI DESA SUKOSONO, kedung, jepara
A.
PENGERTIAN
SEJARAH
Pengertian sejarah ditinjau dari asal kata
Menurut
Jan Romein, kata “sejarah” memiliki arti yang sama dengan kata “history”
(Inggris), “geschichte” (Jerman) dan “geschiedenis” (Belanda), semuanya
mengandung arti yang sama, yaitu cerita tentang kejadian atau peristiwa yang
terjadi pada masa lampau.
Sementara menurut sejarawan William H.
Frederick, kata sejarah diserap dari bahasa Arab, “syajaratun” yang berarti
“pohon” atau “keturunan” atau “asal-usul” yang kemudian berkembang dalam bahasa
Melayu “syajarah”. Dalam bahasa Indonesia menjadi “sejarah”. Menurutnya kata
syajarah atau sejarah dimaksudkan sebagai gambaran silsilah atau keturunan.[1]
Ada
banyak rumusan pendapat yang diberikan para sejarawan terkait dengan pengertian
sejarah. Dari berbagai pendapat yang ada dalam arti yang luas sejarah dapat
diartikan sebagai gambaran tentang peristiwa-peristiwa atau kejadian masa
lampau yang dialami manusia, disusun secara ilmiah, meliputi urutan waktu
tertentu, diberi tafsiran dan analisa kritis sehingga mudah dimengerti dan
dipahami. an sejarah ditinjau dari asal kata
Menurut
Jan Romein, kata “sejarah” memiliki arti yang sama dengan kata
“history”(Inggris), “geschichte” (Jerman) dan “geschiedenis” (Belanda),
semuanya mengandung arti yang sama, yaitu cerita tentang kejadian atau
peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Sementara
menurut sejarawan William H. Frederick, kata sejarah diserap dari bahasa Arab,
“syajaratun” yang berarti “pohon” atau “keturunan” atau “asal-usul” yang
kemudian berkembang dalam bahasa Melayu “syajarah”. Dalam bahasa Indonesia
menjadi “sejarah”. Menurutnya kata syajarah atau sejarah dimaksudkan sebagai
gambaran silsilah atau keturunan.[2]
B.
SEJARAH DESA SUKOSONO
Ada beberapa versi tentang sejarah Desa Sukosono yang di
kutip oleh penulis.
1. Versi yang pertama ada seorang ulama yang tinggal di sebuah bukit yang
penduduknya masih belum begitu banyak, seorang ulama tersebut ada yang
menjelaskan ulama dari seberang yaitu Mbah Datuk Singorojo dari Kerajaan
Buleleng yang berada di wilayah Pantai Utara Bali mulai muncul tahun 1660-an,
dengan pemimpin kharismatis Ki Barak Panji Sakti, yang berdarah Majapahit.
Aktivitas perdagangan lewat laut pun ditengarai berlangsung di wilayah yang
sebelumnya dikenal sebagai Den Bukit itu.
Jejak Buleleng dengan Jepara melekat pada sosok yang diyakini
sebagai cikal bakal desa dan diabadikan jadi nama desa di Mayong, Jepara, itu
adalah Mbah Datuk Singorojo (hidup tahun 1500-1600 an Masehi). Nama desanya
juga Singorojo (sesuai penyebutan ala lidah Jawa, Singorojo, bukan Singaraja).
Sebuah desa yang cukup tua. Sudah ada sejak ratusan tahun silam.
Sosok yang sangat berpengaruh di tiga kecamatan di Jepara. Yakni
kecamatan Mayong, Kecamatan Pecangaan dan Kecamatan Kedung. Ratusan tahun lalu,
banyak pengikutnya dari ketiga kecamatan tersebut. Bahkan pengaruhnya hingga ke
luar Jepara, yakni Kudus.
Versi legenda menyebutkan bahwa Datuk Singorojo datang dari Bali
dengan naik layangan besar dari Bali dan jatuh di kawasan Pantai Teluk Awur,
Jepara. Ada juga yang menyebut kedatangannya naik gentong bersama saudara
kembarnya, Ida Gurnada. Tapi Gurnada kembali lagi ke Bali.
Mbah Datuk Singorojo adalah seorang waliAllah yang juga punya nama
sebutan Datuk Gurnadi. Ada yang menyebut Gusti Gurnadi dan Ida Gurnadi. Itu
adalah nama sesinglon atau samaran. Gurnadi disebut-sebut sebagai kependekan
dari “guru nadi” (guru keutamaan/ pengajar kebajikan).
Mbah Datuk Singorojo yang datang membawa misi menyebarkan agama
islam setelah dari pesiri Jepara sekitar Teluk Awur dan Semat kemudian menuju
ke Desa Kerso dan menyebarkan di desa tersebut, beliau mendirikan Masjid yang
sampai sekarang masih ada dan sebuah sumur yang dipercaya memberikan tuah dan
berkah bagi siapa saja yang membutuhkan.[3]
2. Versi yang kedua Ada beberapa versi
tentang awal Desa Sukosono, asal usul kata sukosono dari dua kata suko
dan sono. Versi yang pertama ada seorang ulama yang tinggal di sebuah bukit
yang penduduknya masih belum begitu banyak, seorang ulama tersebut ada yang
menjelaskan ulama dari seberang adapula yang menjelaskan dari kerajaan Demak
dan dari pesantren Gunung Muria, ulama tersebut sering dipanggil Datuk
Singorojo. Datuk yang datang membawa misi menyebarkan agama islam pertama masuknya
di Desa Kerso dan menyebarkan di desa tersebut, karena melihat perkampungan
diatas bukit yang ada beberapa penduduk seorang Datuk tersebut medatangi
perkampungan tersebut dan menyiarkan agama di tempat tersebut, sempat
mendirikan langgar atau tempat ibadah.
Tempat ibadah
awalnya di dirikan dengan dua jenis kayu atau pohon yaitu pohon suko dan pohon
sono, langgar atau tempat ibadah tersebut sering terucap langar sukosono yang
terletak di sebuah bukit, dengan bertambanya penduduk sekitar langgar tersebut
dijadikan dan diperbesar menjadi masjid dukuh yang sering dikenal menjadi dukuh
sukosono. Untuk sampai sekarang langgar yang di jadikan masjid pertama kali di
dusun sukosono tidak diketemukan jejak maupun sisa peninggalanya.
Dan yang kedua ada
seorang yang dituakan disuatu dukuh atau ketua adat yang mempunyai beberapa
pengabdi yang sering berpergian menjadikian,masyarakat dukuh tersebut banyak
yang dating dan pergi, karena taka sukosono dari dua kata yang dimaksud suko
itu senang dan sono artinya ke sana jadi sukosono maksunya suka berpergian,
sampai sekarang ketua adat yang menjadikan nama sukosono tidak diketahui
namanya.
Versi yang lain asal usul Desa Sukosono dari kebiasaanya sekelompok
masyarakat yang suka datang kedaerah lain untuk mencari nafkah atau penguripan.
Yang mejadi simbulnya adalah pohon randu sirahan yang berbatasan dengan Desa
Petekean. Masyarakat yang sering bepergianya sering dipanggil dari suko sono
artinya dari sana, jadilah panggilan dusun sukosono.
Begitu banyak cerita dan versi awal disebut Desa Sukosono sebai
awal untuk bertakwa kepada pemberi kehidupan, sebenarnya masih banya lagi versi
tenteng asal usul Desa Sukosono, tapi yang dipaparkan hanya sebagian saja,
sebagai referensi pembaca.[4]
C.
SEJARAH NAMAN
“DUKUH NGEIMPEIT” DI DESA SUKOSONO, kedung, jepara
Nama sebuah tempat atau dukuh yang ada di masing – masing desa ada
perbedaan dan kesamaan di masing – masing desa di seluruh daerah di Indonesia
dan dukuh tersebut mempunyai nama dan sebutan tersendiri dari sejarah asal
muasalnya masing - masing, salah satunya yang berada di Desa Sukosono,
kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Provisi Jawa Tengah, Indonesia. Ada pun
penamaan di DUKUH NGEIMPEIT tidak lepas dari sejarah perkembangan penokohan
seseorang atau tokoh yang pada masa tempo zaman terdahulu [5]
[1] Atmadja, Nengah
Bawa, 1992 “Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Implikasinya dalam Pendidikan
Sejarah”, artikel dalam Aneka Widya, Singaraja : FKIP UNUD.an Hidup Kiyai.
Jakarta : LP3ES.
[2] Dhofier,
Zamakhsyari, 1994, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandang
[3] http://sukosono.desa.id/profil/sejarah/
[4]
http://muhammadnurrohim8.blogspot.com/2013/05/sejarah-dakwah-di-desa-sukosono.html
[5] Kutipan wawancara
dengan bapak muslik tokoh setempat ketua RT periode : 2018
Komentar
Posting Komentar